UBLIK SNEMBA

Ublik SMPN 4 Batu

Month: August 2018

Malu itu Sebagian dari Iman

Ungkapan di atas berasal dari sebuah hadist Rasullulah SAW yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari. Biasanya ungkapan ini sering diterjemahkan “malu itu sebagian dari iman”. Rasa malu yang dimiliki oleh manusia saat ini sudah semakin luntur. Banyak wanita yang mirip pria, sementara ada pria yang tingkahnya seperti wanita. Di sisi lain banyak halhal yang semestinya tidak pantas diperlihatkan di muka umum, kini seolah sudah menjadi tontonan yang lulus sensor. Misalnya cara berpakaian, cara bertutur kata, termasuk gaya berpacaran yang kebablasan.

Salah satu penyebab adanya beragam fenomena tersebut adalah hilangnya rasa malu, sehingga menjadi penting kita semua untuk menghadirkan rasa malu. Supaya rasa malu itu tetap terjaga, ibarat pakaian yang menyelimuti dan menghangatkan tubuh kita maka cara yang efektif adalah memahami keutamaan rasa malu.

Malu itu bahasa Arabnya adalah alhaya’u, dan kata alhaya’u ini seakar kata dengan alhayatu, sehingga beberapa ulama mengatakan, “ketika seorang mempunyai hati yang hidup maka disitulah ia memiliki kekuatan rasa malu, menampakkan bahwa dirinya memiliki rasa malu. Sementara sedikitnya rasa malu menunjukkan matinya hati dan matinya hidup. Dan setiap kali hati seorang itu hidup, maka bersama itu pula rasa malunya semakin menguat.”

Rasa malu itu sebuah sifat, sebuah karakter yang muncul bukan hanya sebuah perkataan. Pada prinsipnya ungkapan di atas merupakan nasehat untuk setiap manusia agar memiliki malu kepada Tuhannya terutama dalam kesendiriannya. Kita merasakan ketika sendiri, peluang untuk melanggar itu lebih besar ketimbang bersama orang lain, meskipun anak kecil yang melihatnya. Oleh karena itu rasa malu itu diharapkan dapat menjadi penghalang seseorang untuk berbuat asusila atau pun tindakan keji lainnya.

Untuk menumbuhkan rasa malu tersebut, maka ada beberapa cara yang bisa kita lakukan. Pertama, merasa dilihat oleh Tuhan Yang Maha Melihat segalanya. Kedua menumbuhkan sensitifitas keimanan dan kepedulian. Ketiga, menyibukkan diri kita dengan sesuatu yang baik. Keempat, sering-seringlah mengingat kematian, bahwa jasad kita akan menjadi bangkai, cepat ataupun lambat kita akan kembali kepada Sang Pencipta. Orang Jawa mengatakan “luwih becik wirang, tinimbang kena waring”, artinya “lebih baik malu (wirang), daripada kita kena jaring (waring) atau tertangkap dan dipermalukan di depan banyak orang”.

Naga Mangsa Tanpa Cala

NAGA MANGSA TANPA CALA
(wong kang mrana-mrene ngrasani alaning liyan)

Ini adalah peribahasa yang ditujukan untuk orang-orang suka mencela atau bergosip kesana-kemari. Kata “naga” berarti “ular”; “mangsa” artinya “waktu, setiap saat”; “tanpa” artinya “tidak, tanpa”; dan “cala” berarti “mencela, menista”. Kalau diindonesiakan maka peribahasa ini sama dengan “tiada hari tanpa mencela atau menista”. Orang semacam ini diibaratkan seperti ular (naga) di mana dia memiliki lidah yang bercabang bahkan melebihi ular itu sendiri. Jika lidah ular hanya memiliki 2 cabang, tetapi orang yang semacam ini lidahnya bisa memiliki seribu cabang.

Ketika menemui kelompok A maka dia akan menggunakan cabang lidah yang memuji kelompok A tetapi mencela kelompok B, C, dan seterusnya. Sebaliknya ketika dia berada di tengah kelompok B, maka dia akan menggunakan cabang lidah yang memuji kelompok B, tetapi mencela kelompok A, C, dan seterusnya.

Intinya orang semacam ini hanya “jualan omongan”. Siasat yang dipakai persis seperti devide et impera yang pernah dijalankan oleh Belanda ketika menjajah Indonesia. Jika dalam Pewayangan maka, dia seperti Sengkuni (Sakuni).

Orang dengan karakter “naga mangsa tanpa cala” ini bisa berada di mana-mana. Tidak hanya dalam dunia panggung, tetapi juga dalam dunia nyata. Dia bisa masuk ke semua ranah, mulai ranah politik, sosial, ekonomi, bahkan agama sekalipun. Bahkan konon Sang Adam pun bisa jatuh ke dalam lumpur dosa dan diusir oleh Tuhan dari Taman Eden hanya karena bujuk rayu si iblis yang menyamar menjadi ular berbisa.

Sungguh jika kita menuruti kata-kata orang semacam ini, maka hidup kita akan hancur. Kita akan bermusuhan dengan teman atau bahkan saudara kita. Mereka yang benar-benar baik kepada kita akan kita kira sebagai orang yang akan menjahati kita.

Sementara orang yang akan menghancurkan kita akan kita puja-puja layaknya pahlawan. Oleh karena itu berhati-hatilah dengan orang-orang di sekitar anda yang dalam pembicaraannya dia selalu memuja anda atau setuju dengan anda sementara di balik itu semua dia menaburkan racun-racun permusuhan dengan orang lain.

Kata-Katamu Membangun Duniamu

Mungkin kita masih ingat sebuah ungkapan populer pada iklan produk minuman yang menyatakan ‘mulutmu harimaumu’. Ungkapan ini memiliki makna bahwa kata-kata bisa membawa kita pada celaka. Kata-kata yang keluar dari mulut kita akan bisa menjadi awal bencana bagi kita.

Banyak masalah yang menimpa kita atau orang-orang di sekitar kita hanya gara-gara kata-kata yang mengandung unsur pelecehan seperti hujatan, umpatan, hinaan, dan seterusnya. Baik itu yang disampaikan secara langsung dari mulut kita maupun melalui media lainnya. Saat ini yang sering muncul adalah pelecehan melalui media sosial seperti twitter, facebook dan lain-lain.

Kata-kata kotor yang bernada penghinaan yang dilontarkan pada seseorang memang akan mudah membuat orang tersebut terpancing emosinya. Karena merasa terhina dia bisa melakukan apa saja kepada penghinanya. Bahkan bisa jadi si terhina itu akan membunuh si penghina. Setelah si penghina tersebut mati orangorang di sekitarnya akan merasa kehilangan. Sebaliknya si terhina yang menjadi pembunuh itu akan menghabiskan waktunya dengan mendekam di penjara, dan ini pun akan membuat keluarganya merasa terpukul.

Sebaliknya orang-orang yang bisa mengendalikan kata-katanya atau hanya menggunakan kata-katanya untuk halhal yang baik saja akan memetik buah kebajikan dari ucapannya itu. Banyak orang yang akan merasa senang dengan setiap kata-kata yang mengandung kebajikan tersebut.

Emoto, seorang peneliti dari Jepang yang meraih penghargaan internasional pun telah membuktikan bahwa katakata dapat mempengaruhi formasi kristal air. Dia bisa membuktikan bahwa gambar kristal yang paling indah adalah yang terbuat dari kata-kata yang penuh cinta. Air yang menerima kata-kata indah tersebut akan mampu membentuk kristal yang indah pula. Jika air saja bisa merespons kata-kata yang ditujukan kepadanya, bagaimana halnya dengan manusia yang 75% lebih dari bagian tubuhnya terdiri atas air.

Bisa jadi kata-kata yang ditujukan kepada seseorang akan bisa mempengaruhi karakter orang tersebut. Oleh karena itu kita harus selalu berkata-kata dengan baik agar orang yang kita ajak berkomunikasi itu juga mengeluarkan kata-kata baiknya untuk kita.

Dengan begitu kita akan bebas dari pengaruh energi negatif kata-kata yang kita ucapkan sehinga kita akan merasa aman, tenteram, damai dan mendapatkan kebahagiaan yang luar biasa. Memang setiap kata-kata yang keluar dari mulut kita dapat memberikan pengaruh bagi kita atau pun orang-orang di sekitar kita, baik itu pengaruh positif ataupun pengaruh negatif. Kata-kata yang baik akan memberikan pengaruh positif dan kata-kata yang tidak baik akan memberikan pengaruh negatif.

Kata-kata yang positif dapat membangun semangat hidup seseorang, mendatangkan persahabatan, dan memberikan kebahagiaan untuk semua orang. Sementara itu kata-kata negatif dapat mempengaruhi pikiran seseorang untuk berbuat jahat dan menghancurkan hidup orang lain. Oleh karena itu kita harus senantiasa menjaga kata-kata kita agar tidak menjadi kutuk bagi orang lain, melainkan menjadi berkat dan sebuah doa untuk orang tersebut. Lidah yang tidak bertulang ini sangat mudah digerakkan. Dia bisa menjadi berkah atau pun bisa mendatangkan musibah.

Kita harus berhati-hati menggunakan lidah kita untuk berkatakata. Dan agar bisa menggunakannya dengan hati-hati maka apa yang akan kita katakan itu harus dipikir masakmasak. Kata-kata yang keluar dari mulut kita ibarat anak panah yang terlepas dari busurnya. Dia tidak akan bisa ditarik kembali.

Sebuah nasihat dalam Tembang Pangkur menyebutkan:

Ajining wong ing wicara

Rêsêp sêdhêp wijilé rum aririh

Wosing sêdya laras runtut

Grapyak gampang tinamba

Culing tutur tinampa datan ngêlantur

Solah bawa mung samdya

Karyénak tyasing sasami

(manusia ditentukan dari bicaranya; enak didengar, sedap dan halus; maksudnya jelas dan keluar teratur; akrab dan gampang diterima; katakatanya baik dan tak ngelantur; sikap dan gaya seperlunya; bisa menyenangkan semua orang).

Saat kita tidak memiliki kata-kata yang baik untuk diucapkan, maka hal yang terbaik yang harus kita lakukan adalah dengan diam dan mendengar. Dengan begitu kita akan begitu mudah untuk mengetahui saat yang tepat untuk berbicara. Namun, mengetahui kapan harus berbicara adalah hal yang jauh berbeda. Salah satu fungsi bibir adalah untuk dikatupkan.

Bagaimana kita bisa memperhatikan dan mendengarkan dengan lidah yang berkata-kata. Maka diam adalah pilihan yang tepat untuk kejernihan pikiran kita. Setelah pikiran kita jernih, maka kata-kata yang kita ucapkan bagaikan mutiara yang bersinar dari dasar samudra yang paling dalam. Butiran mutiara yang indah di dalam kerang mutiara hanya bisa tercipta bila kerang tersebut mengatupkan bibirnya rapat-rapat.

Namun demikian tidak semua diam itu berarti emas. Diam saja ketika orang bertanya kepada kita tentang sesuatu sementara kita bisa mengetahui apa yang ia tanyakan. Dan masih banyak lagi diam-diam lain yang tidak berarti emas. Oleh karena itulah orang harus mengetahui kapan dan dimana dia harus berbicara serta kapan saatnya dan di mana dia harus diam. Dan ketika berbicara kita harus bisa memelihara katakata kita, karena kata-kata itulah yang akan menjaga kita. Hal ini tentu membutuhkan pemikiran yang bijaksana.

Oleh: Miswanto, S.Ag., M.Pd.H.

Greetings

Hello, Ublikers!

 

Ok, our theme now is Greeting, Taking Leave, Introducing. For more details, let’s see well.

 

Greeting and Leave Taking / Salam Pertemuan dan Perpisahan (A) and Responses / Jawaban (B)

 

Hello / Hi

Hello / Hi

Good morning (selamat pagi) / good afternoon / (selamat siang) / good evening (Selamat malam)

Good morning (selamat pagi) / good afternoon / (selamat siang) / good evening (Selamat malam)

How are you (bagaimana kabarmu)

Fine, thanks (baik, terima kasih) / I’m fine thank you (saya baik, terima kasih)

Good night, Mum (selamat malam, Ibu)

Good night, honey (selamat malam, sayang) / sweet dream (mimpi indah)

Good bye (selamat tinggal)

Bye / Bye-bye (Selamat tinggal)

See you tomorrow (sampai jumpa besok)

See you (sampai jumpa)

 

Introducing Oneself (Memperkenalkan Diri Sendiri)

 

Hello./Hi. I am Anisa Putri (Halo/Hai. Saya Anisa Putri.)

Please call me Anisa (Silahkan panggil saya Anisa)

 

Introducing Someone to Another (Memperkenalkan Seseorang Kepada Orang Lain)

 

Please meet my friend Anisa (Silahkan berkenalan dengan teman saya Anisa.)

Anisa, this is Budi (Anisa, ini Budi)

Budi, this is Anisa (Rio, ini Anisa)

Hello, Budi (Halo, Budi)

Hello, Anisa (Halo, Anisa)

Nice to meet you. (Senang bertemu denganmu.)

Nice to meet you too (Senang bertemu denganmu juga.)

 

You may also learn other information for introduction, such as address and age.

 

Where do you live? (Dimana kamu tinggal) / What’s your address? (Dimana alamatmu?)

I live at Jl. Cemara Kipas 36 Sidomulyo

How old are you? (Berapa umur kamu?)

I am twelve years old (Umur saya 12 tahun.)

When were you born? (Kapan kamu lahir?)

I was born on April 21st, 2003 (Saya lahir pada tanggal 21 April 2003)

 

Read the text below!

 

My name is Budi Raharja. I am a student. I study in SMP 4 Batu. I was born in Malang, 21st April 2003. I live at Jl. Cemara Kipas 36 Sidomulyo, my phone number is 081234567890. I like jogging, bicycling, and listening to music. My parent’s name are Mr.Slamet Raharja and Mrs.Yunita Amretasari. My blood type is AB. You can e-mail me at budiraharja@gmail.com. I am in 7A. I have lot of friends. Justin Bieber is one of my friends.

Workshop RKS SMPN 4 Batu

Rencana Kerja Sekolah dalam setiap awal tahun pelajaran merupakan hal penting yang harus dilakukan oleh setiap sekolah. Untuk itu Senin hingga Rabu depan (16-18 Juli 2018), SMP Negeri 4 Batu mengadakan kegiatan Workshop untuk menentukan Program Kerja selama 1 tahun ke depan. Selama 3 hari tersebut, para Gunawan (Guru Negeri Sekawan, red) mengadakan kegiatan bertajuk Workshop Review dan Revisi Rencana Jangka Menengah (RKJM), Rencana Kerja Tahunan (RKT), Rencana Kerja Sekolah (RKS), dan Rencana Kerja Anggaran Sekolah (RKAS). Kegiatan ini dibuka oleh Kepala SMP Negeri 4 Batu, Tatik Ismiati, S.Pd. pada Senin (16/7/2018) usai Halal Bi Halal dengan Keluarga Besar SMP Negeri 4 Batu.

Workshop ini juga dihadiri oleh Pengawas Pendidikan dari Dinas Pendidikan Kota Batu, Drs. Sugeng Prayogi, M.Pd. Dalam kegiatan tersebut Pengawas Pendidikan di SMP Negeri 4 Batu ini menyatakan pentingnya perencanaan yang matang dari setiap sekolah, agar pelaksanaan proses pendidikan selama satu tahun ke depan bisa berjalan dengan baik, terprogram dan terencana. “Selain itu wajah sekolah selama tahun pelajaran 2018/2019 akan ditentukan selama 3 hari ini”, tuturnya ketika diwawancarai wartawan Ublik usai memberikan materi pada Workshop tersebut.

Kegiatan workshop ini dipandu oleh Waka Akademik, Akhmad Khoifin, S.Pd. Dalam kegiatan tersebut Waka Akademik yang juga Guru IPA ini banyak memberikan arahan kepada seluruh peserta workshop untuk menyusun kegiatan selama tahun pelajaran 2018/2019. “Dengan hasil review dan revisi RKJM, RKT, RKS, dan RKAS yang insyallah Rabu nanti bisa dirampungkan, kegiatan pembelajaran di Snemba nanti akan semakin meningkat”, sambungnya di sela-sela acara Workshop tersebut.

Kepala Sekolah Buka PLSBSB 2018

Senin (16/7/2018) lalu seluruh siswa di SMP Negeri 4 Batu memulai tahun ajaran 2018/2019. Di awal tahun ajaran baru ini sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, SMP Negeri 4 Batu mulai melaksanakan masa pengenalan sekolah bagi siswa baru. Untuk tahun ini lebih dari 200 siswa baru mengikuti kegiatan Pengenalan Lingkungan Sekolah bagi Siswa Baru (PLSBSB).

Kegiatan PLSBSB tahun 2018 ini dimulai dengan Upacara Pembukaan di Lapangan Upacara. PLSBSB ini langsung dibuka oleh Kepala SMP Negeri 4 Batu, Tatik Ismiati. Dalam sambutannya, Tatik mengatakan kegiatan PLS ini merupakan ajang bagi siswa baru untuk mengenal lingkungan sekolah barunya. Selain itu Beliau juga berpesan agar kegiatan ini bisa memberikan siswa kesan yang positif pada peserta didik baru dan hal yang menyenangkan terhadap lingkungan pendidikan SMP. Menurutnya siswa baru diharapkan dapat mengawali kegiatan pendidikan dengan hal-hal yang menggembirakan sambil mengenal dan mempelajari sesuatu yang baru, baik yang berkaitan dengan lingkungan fisik, lingkungan sosial (termasuk norma-norma khusus yang berlaku di lingkungan sekolah) maupun dengan cara-cara belajar yang baru. Usai memberikan sambutan dan membuka secara resmi, Kepala SMP Negeri 4 Batu juga menyematkan tanda peserta kepada perwakilan siswa yang telah ditunjuk oleh panitia.

Dalam kegiatan PLS ini siswa dibekali dengan materi pengenalan lingkungan SMP Negeri 4 Batu, Tata Tertib, Tata Krama Siswa, Pendidikan Anti Narkoba, Pelatihan Baris-Berbaris, Cara Belajar yang Baik, dan beberapa materi-materi yang mampu memberikan kesan positif bagi siswa baru. Kegiatan PLS ini sendiri akan berlangsung selama 3 hari hingga Rabu (19/7/2018).

Ditemui Ublik di sela-sela kegiatan, Ketua OSIS SMP Negeri 4 Batu selaku Ketua Panitia PLSBSB, Dicky Ardiansyah mengatakan bahwa untuk kegiatan MPLS pada tahun 2018/2019 ini kami mengambil tema: “Find, Fun and Fine”. Find artinya peserta mulai menemukan teman, tempat, suasana, dan pengetahuan yang baru. Fun artinya kegiatan dilaksanakan dengan senang dan enjoyable. Fine artinya bertujuan untuk mencapai kebaikan untuk semua. (Naz)

UBLIK SNEMBA © 2018