UBLIK SNEMBA

Ublik SMPN 4 Batu

Category: Ungkapan

Ungkapan

Malu itu Sebagian dari Iman

Ungkapan di atas berasal dari sebuah hadist Rasullulah SAW yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari. Biasanya ungkapan ini sering diterjemahkan “malu itu sebagian dari iman”. Rasa malu yang dimiliki oleh manusia saat ini sudah semakin luntur. Banyak wanita yang mirip pria, sementara ada pria yang tingkahnya seperti wanita. Di sisi lain banyak halhal yang semestinya tidak pantas diperlihatkan di muka umum, kini seolah sudah menjadi tontonan yang lulus sensor. Misalnya cara berpakaian, cara bertutur kata, termasuk gaya berpacaran yang kebablasan.

Salah satu penyebab adanya beragam fenomena tersebut adalah hilangnya rasa malu, sehingga menjadi penting kita semua untuk menghadirkan rasa malu. Supaya rasa malu itu tetap terjaga, ibarat pakaian yang menyelimuti dan menghangatkan tubuh kita maka cara yang efektif adalah memahami keutamaan rasa malu.

Malu itu bahasa Arabnya adalah alhaya’u, dan kata alhaya’u ini seakar kata dengan alhayatu, sehingga beberapa ulama mengatakan, “ketika seorang mempunyai hati yang hidup maka disitulah ia memiliki kekuatan rasa malu, menampakkan bahwa dirinya memiliki rasa malu. Sementara sedikitnya rasa malu menunjukkan matinya hati dan matinya hidup. Dan setiap kali hati seorang itu hidup, maka bersama itu pula rasa malunya semakin menguat.”

Rasa malu itu sebuah sifat, sebuah karakter yang muncul bukan hanya sebuah perkataan. Pada prinsipnya ungkapan di atas merupakan nasehat untuk setiap manusia agar memiliki malu kepada Tuhannya terutama dalam kesendiriannya. Kita merasakan ketika sendiri, peluang untuk melanggar itu lebih besar ketimbang bersama orang lain, meskipun anak kecil yang melihatnya. Oleh karena itu rasa malu itu diharapkan dapat menjadi penghalang seseorang untuk berbuat asusila atau pun tindakan keji lainnya.

Untuk menumbuhkan rasa malu tersebut, maka ada beberapa cara yang bisa kita lakukan. Pertama, merasa dilihat oleh Tuhan Yang Maha Melihat segalanya. Kedua menumbuhkan sensitifitas keimanan dan kepedulian. Ketiga, menyibukkan diri kita dengan sesuatu yang baik. Keempat, sering-seringlah mengingat kematian, bahwa jasad kita akan menjadi bangkai, cepat ataupun lambat kita akan kembali kepada Sang Pencipta. Orang Jawa mengatakan “luwih becik wirang, tinimbang kena waring”, artinya “lebih baik malu (wirang), daripada kita kena jaring (waring) atau tertangkap dan dipermalukan di depan banyak orang”.

Naga Mangsa Tanpa Cala

NAGA MANGSA TANPA CALA
(wong kang mrana-mrene ngrasani alaning liyan)

Ini adalah peribahasa yang ditujukan untuk orang-orang suka mencela atau bergosip kesana-kemari. Kata “naga” berarti “ular”; “mangsa” artinya “waktu, setiap saat”; “tanpa” artinya “tidak, tanpa”; dan “cala” berarti “mencela, menista”. Kalau diindonesiakan maka peribahasa ini sama dengan “tiada hari tanpa mencela atau menista”. Orang semacam ini diibaratkan seperti ular (naga) di mana dia memiliki lidah yang bercabang bahkan melebihi ular itu sendiri. Jika lidah ular hanya memiliki 2 cabang, tetapi orang yang semacam ini lidahnya bisa memiliki seribu cabang.

Ketika menemui kelompok A maka dia akan menggunakan cabang lidah yang memuji kelompok A tetapi mencela kelompok B, C, dan seterusnya. Sebaliknya ketika dia berada di tengah kelompok B, maka dia akan menggunakan cabang lidah yang memuji kelompok B, tetapi mencela kelompok A, C, dan seterusnya.

Intinya orang semacam ini hanya “jualan omongan”. Siasat yang dipakai persis seperti devide et impera yang pernah dijalankan oleh Belanda ketika menjajah Indonesia. Jika dalam Pewayangan maka, dia seperti Sengkuni (Sakuni).

Orang dengan karakter “naga mangsa tanpa cala” ini bisa berada di mana-mana. Tidak hanya dalam dunia panggung, tetapi juga dalam dunia nyata. Dia bisa masuk ke semua ranah, mulai ranah politik, sosial, ekonomi, bahkan agama sekalipun. Bahkan konon Sang Adam pun bisa jatuh ke dalam lumpur dosa dan diusir oleh Tuhan dari Taman Eden hanya karena bujuk rayu si iblis yang menyamar menjadi ular berbisa.

Sungguh jika kita menuruti kata-kata orang semacam ini, maka hidup kita akan hancur. Kita akan bermusuhan dengan teman atau bahkan saudara kita. Mereka yang benar-benar baik kepada kita akan kita kira sebagai orang yang akan menjahati kita.

Sementara orang yang akan menghancurkan kita akan kita puja-puja layaknya pahlawan. Oleh karena itu berhati-hatilah dengan orang-orang di sekitar anda yang dalam pembicaraannya dia selalu memuja anda atau setuju dengan anda sementara di balik itu semua dia menaburkan racun-racun permusuhan dengan orang lain.

UBLIK SNEMBA © 2018